MAKALAH
HKSA AGEN SISTEM SARAF
PUSAT
(OBAT ANTI EPILEPSI)
Disusun
oleh:
1.
Dede Mirtha Adipratma
2.
Eva Apriliyana Rizki
3.
Reni Pebrianti
4.
Riska Narulita Putri
5.
Tobok Jonathan Sianturi
6.
Melly Ariani
7.
Walya Firdaus Putra
PROGRAM
S1 FARMASI EKSTENSI
SEKOLAH TINGGI
FARMASI BANDUNG
BANDUNG
2014
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah,
puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya
sehinga makalah dengan judul “QSAR Agen Sistem Saraf Pusat” ini dapat
terselesaikan sebagai tugas Kimia Medisinal.
Tanpa
adanya semangat, bimbingan, serta bantuan dari berbagai pihak, makalah ini
tidak akan terwujud, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada
Ibu Rika Rendrika sebagai dosen Kimia Medisinal, serta teman-teman yang
memberikan bantuan materil maupun doa sehingga pembuatan makalah ini dapat
berjalan dengan lancar, dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis. Penulis menyadari bahwa
dalam makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima saran dan
kritik yang bersifat membangun demi perbaikan makalah. Akhir kata penulis
mengucapkan terima kasih.
Penulis
KELOMPOK
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sistem
saraf pusat merupakan pusat pengaturan informasi, dimana seluruh aktivitas tubuh
dikendalikan oleh sistem saraf pusat. Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan
sumsum tulang belakang. Otak dilingdungi oleh
tengkorak dan sumsum tulang belakang dilindungi oleh
ruas-ruas tulang belakang. Otak dan sumsum tulang belakang dibungkus oleh
selaput meningia yang melindungi sistem saraf
halus, membawa pembuluh darah, dan dengan mensekresi
sejenis cairan yang disebut serebrospinal, selaput meningia dapat memperkecil benturan
dan guncangan. Meningia terdiri ata tiga lapisan, yaitu
piamater, arachnoid, dan duramater.
Susunan
saraf pusat berkaitan dengan sistem saraf manusia yang merupakan suatu jaringan
saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling berhubungan satu dengan yang
lain. Fungsi sistem saraf antara lain :
mengkoordinasi, menafsirkan dan mengontrol interaksi antara
individu dengan lingkungan sekitarnya.
Stimulan
sistem saraf pusat (SSP) adalah obat yang dapat merangsang serebrum medula
dan sumsum tulang belakang. Stimulasi daerah korteks otak-depan oleh se-nyawa stimulan
SSP akan meningkatkan kewaspadaan, pengurangan kelelahan pikiran dan semangat bertambah.
Contoh senyawa stimulan SSP yaitu kafein dan amfetamin.
Sistem
saraf dapat dibagi menjadi sistem saraf pusat atau sentral dan sistem saraf
tepi SST). Pada sistem syaraf pusat, rangsang
seperti sakit, panas, rasa, cahaya, dan suara mula-mula diterima oleh reseptor,
kemudian dilanjutkan ke otak dan sumsum tulang belakang. Rasa
sakit disebabkan oleh perangsangan rasa sakit diotak besar. Sedangkan analgetik narkotik
menekan reaksi emosional yang ditimbulkan rasa sakit tersebut. Sistem syaraf
pusat dapat ditekan seluruhnya oleh penekan
saraf pusat yang tidak spesifik, misalnya sedatif hipnotik.
Obat
–obat yang bekerja terhadap susunan saraf pusat berdasarkan efek
farmakodinamiknya
dibagi atas dua golongan besar yaitu :
1.
Merangsang
atau menstimulasi yang secara langsung maupun tidak langsung merangsang
aktivitas otak, sumsum tulang belakang beserta syarafnya.
2.
Menghambat
atau mendepresi, yang secara langsung maupun tidak lansung memblokir
proses proses tertentu pada aktivitas otak, sumsum tulang belakang
dan saraf- sarafnya.
Obat
yang bekerja pada susunan saraf pusat memperlihatkan efek yang sangat luas (merangsang
atau menghambat secara spesifik atau secara umum). Kelompok obat memperlihatkan
selektifitas yang jelas misalnya analgesik antipiretik khusus mempengaruhi pusat
pengatur suhu pusat nyeri tanpa pengaruh jelas.
BAB II
DASAR TEORI
Obat
Susunan Saraf Pusat (SSP) adalah semua obat yang berpengaruh terhadap sistem saraf pusat.
Obat tersebut bereaksi terhadap otak dan dapat mempengaruhi pikiran seseorang yaitu
perasaan atau tingkah laku. Obat yang dapat merangsang SSP disebut analeptika.
Klasifikasi Sistem Saraf Pusat
Obat
yang bekerja terhadap SSP dapat dibagi dalam beberapa golongan besar, yaitu :
1. Psikofarmaka (psikotropika), yang
meliputi Psikoleptika (menekan atau menghambat fungsi-fungsi
tertentu dari SSP seperti hipnotika, sedativa dan tranquillizers, dan antipsikotika);
Psiko-analeptika (menstimulasi seluruh SSP, yakni antidepresiva dan psikostimulansia
(wekamin)).
2. Untuk gangguan neurologis, seperti
antiepileptika, MS (multiple sclerosis), dan
penyakit
Parkinson.
3. Jenis yang memblokir perasaan sakit:
analgetika, anestetika umum, dan lokal.
4. Jenis obat vertigo dan obat migrain
(Tjay, 2002).
Umumnya
semua obat yang bekerja pada SSP menimbulkan efeknya dengan mengubah
sejumlah tahapan dalam hantaran kimia sinap (tergantung kerja transmitter).
Pembagian obat susunan syaraf pusat:
• Anestetika
• Hipnotiv sedativ
• Antikonvulsan
• Antipartinson
• Analeptika
ANTI
KONVULSAN / ANTI KEJANG
Antikonvulsan
adalah sebuah obat yang mencegah atau mengurangi kejang-kejangatau konvulsan.
Tujuan terapinya adalah Untuk mencegah serangan epilepsi tanpamenimbulkan
depresi pernafasan. Efek samping obat-obat anti konvulsan adalah Kerusakansumsum tulang, hati & ginjal, neuropati, dan gangguan
saluran cerna.Epilepsi adalah nama umum untuk sekelompok gangguan atau penyakit
susunan saraf pusat yang timbul spontan dengan episode singkat (
Seizure), dengan gejala utama kesadaranmenurun sampai hilang. Bangkitan ini
biasanya disertai kejang (Konvulsi), hiperaktifitasotonomik, gangguan sensorik
atau psikis.
Jenis–Jenis Epilepsi :
1.
Grand mal
Timbul serangan-serangan yang dimulai dengan kejang-kejang otot
hebat
dengan pergerakan kaki tangan tak sadar yang disertai jeritan, mulut berbusa,mata membeliak dandisusul
dengan pingsan dan sadar kembali.
2.
Petit mal
Serangannya hanya singkat sekali tanpa disertai kejang.
3.
Psikomotor (serangan parsial kompleks)
Kesadaran terganggu hanya sebagian tanpa
hilangnya ingatan denganmemperlihatkan perilaku
otomatis seperti gerakan menelan atau berjalan dalam lingkaran
Mekanisme kerja
Antikonvulsan Terdapat dua
mekanisme antikonvulsi yang penting, yaitu :
1. Dengan mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik
dalam fokus epilepsi.
2. Dengan mencegah terjasinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat
pengaruh dari fokus epilepsi.
Turunan Barbiturat
Turunan obat ini Digunakan
untuk efek epilepsi, efek tidak khas Efektif untukmengontrol serangan grand mal
dan parsial psikomotor, kurang bermanfaat untuk epilepsy petit mal, contoh obat:
a.
Fenobarbital
Masa kerja panjang lebih efektif utk serangan grand mal
b.
Metabarbital
Efektif untuk grand mal, petit mal, mioklonik/ tipe campuran
c.
Primidon (Mysoline)
Turunan de-oksi dari
fenobarbita Efek antikejang lbh rendah & toksisitas lebih kecilfenobarbital
Turunan Oksazolidindion
Obat turunan ini efektif untuk
pengobatan petit mal, dan tidak efektif utk grand malESO : iritasi
lambung, mual, pusing, gangguan penglihatan, anemia aplastik, depresi
sumsumtulang belakang &kerusakan ginjal.Contoh obat: trimetadion,
parametadion
Antikonvulsan(Anti Epilepsi)
a) Definisi
Antikonvulsan adalah
sebuah obat yang mencegah atau mengurangi kejang-kejang atau
konvulsan atau Obat yang dapat menghentikan penyakit ayan, yaitu suatu penyakit gangguan
syaraf yang ditimbul secara tiba-tiba dan berkala, adakalanya disertai perubahan-perubahan
kesadaran. Digunakan terutama untuk mencegah dan mengobati epilepsi.
Golongan obat ini lebih tepat dinamakan Anti Epilepsi, sebab obat ini jarang digunakan
untuk gejala konvulsi penyakit lain.
Epilepsi adalah nama umum
untuk sekelompok gangguan atau penyakit susunan saraf
pusat yang timbul spontan dengan episode singkat (disebut Bangkitan atau Seizure),
dengan gejala utama kesadaran menurun sampai hilang. Bangkitan
ini biasanya disertai kejang (Konvulsi), hiperaktifitas otonomik, gangguan
sensorik atau psikis dan selalu disertai gambaran letupan EEG obsormal dan eksesif.
Berdasarkan gambaran EEG, apilepsi dapat dinamakan disritmia serebral yang bersifat
paroksimal. Jenis –Jenis Epilepsi yaitu:
1. Grand mal (tonik-tonik umum )
Timbul serangan-serangan yang dimulai
dengan kejang-kejang otot hebat dengan pergerakan
kaki tangan tak sadar yang disertai jeritan, mulut berbusa,mata membeliak
dan disusul dengan pingsan dan sadar kembali.
2. Petit mal
Serangannya hanya singkat sekali tanpa
disertai kejang.
3. Psikomotor (serangan parsial kompleks)
Kesadaran terganggu hanya sebagian tanoa
hilangnya ingatan dengan memperlihatkan perilaku otomatis seperti
gerakan menelan atau berjalan dalam lingkaran.
b) Sifat obat konvulsan
Hablur kecil atau serbuk
hablur putih berkilat tidak berbau,tidak berasa, dapat terjadi polimorfisma. Stabil
diudara; ph larutan jenuh lebih
kurang sangat
sukar larut dalm air, larut dlam etanol, eter, dan
dalam larutan alkali hidroksida, alkali karbonat. Agak
sukar larut dalam kloroform(FI 4).
c) Mekanisme Kerja Antiepilepsi (Anti
Konvulsi)
Terdapat dua mekanisme
antikonvulsi yang penting, yaitu :
1.
Dengan
mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik dalam
fokus epilepsi.
2.
Dengan
mencegah terjasinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat
pengaruh dari fokus epilepsi.
Bagian terbesar antiepilepsi yang dikenal
termasuk dalam golongan kedua diatas.
d) Penggunaan Antiepilepsi (Anti
Konvulsi)
Antiepilepsi
umunya memiliki lebar terapi yang sempit, seperti Fenitoin, harus dengan teratur
dan kontinu, agar kadar obat dalam darah terpelihara sekonstan mungkin. Umumnya
pengobatan dilakukan dengan dosis rendah dulu kemudian dinaikan secara berangsur
sampai efek maksimal tercapai dan kadar plasma menjadi tetap. Jangka
waktu terapi umumnya bertahun-tahun bahkan bisa seumur hidup. Bila dalam 2-3tahun
tidak terjadi serangan maka dosis dapat diturunkan berangsur sehingga pengobatan dapat
dihentikan sama sekali.
e) Penggolongan Antiepilepsi
Kebanyakan
obat epilepsi bersifat antikonvulsif, yaitu dapat meredakan konvulsi, dan sedatif
(meredakan). Obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa kelompok sbb :
1.
Barbital-barbital, misalnya Fenobarbital, Mefobarbital, dan Heptobarbital.
Obat
tidur ini bersifat mnenginduksi enzim, hingga biotransformasi enzimatisnya dipercepat,
juga penguraian zat-zat lain, antara lain penguraian vitamin D sehingga
menyebabkan
rachitis, khususnya pada anak kecil.
2.
Hidantoin-hidantoin, misalnya Fenitoin,strukturnya mirip fenobarbital tetapi
dengan cincin “lima hidantoin”.
3.
Suksinimida-suksinimida, misalnya Metilfenilsuksinimida dan Etosuksinimida.Obat
ini
terutama digunakan pada serangan psikomotor.
4. Oksazolidin-oksazolidin,
misalnya Etadion dan Trimetadion, tetapi jarang digunakan
mengingat efek sampingnya berbahaya terhadap hati dan limpa.
5. Serba-serbi, misalnya Diazapam dan
turunannya, Karbamazepin, Asetazolamid, dan Asam
Valproat.
f) Contoh sediaan obat
1.
Fenitoin (Ditalin, Dilantin)
Zat
hipnotik ini terutama efektif pada grand mal dan serangan psikomotor, tidak
untuk
serangan-serangan kecil karena dapat memprofokasi serangan.
DS :
oral 1-2x sehari @ 100-300 mg.
Indikasi
: semua jenis epilepsi,kecuali petit mal, status epileptikus
Kontra
indikasi : gangguan hati, wanita hamil dan menyusui
Efek
samping : gangguan saluran cerna, pusing nyeri kepala tremor,
insomnia.
2.
Penobarbital
Zat
hipnotik ini terutama digunakan pada serangan epilepsi Grand mal / besar,
biasanya
dalam kombinasi dengan kafein atau efedrin guna melawan efek
hipnotisnya.
DS :
oral 3 x sehari@ 25 –75 mg maksimal 400 mg (dalam 2
dosis).
Indikasi
: semua jenis epilepsi kecuali petit mal, status epileptikus
Kontra
indikasi : depresi pernafasan berat, porifiria
Efek
samping : mengantuk, depresi mental
3.
Karbamazepin
Indikasi
: epilepsi semua jenis kecuali petit mal neuralgia trigeminus
Kontra
indikasi : gangguan hati dan ginjal, riwayat depresi sumsum tulang
Efek
samping : mual,muntah,pusing, mengantuk, ataksia,bingung
4.
Klobazam
Indikasi
: terapi tambahan pada epilepsy penggunaan jangka pendek
ansietas.
Kontra
indikasi : depresi pernafasan
Efek
samping : mengantuk, pandangan kabur, bingung, amnesia
ketergantungan
kadang-kadang nyeri kepala, vertigo
hipotensi.
5.
Diazepam (valium)
Selain
bersifat sebagai anksiolitika, relaksan otot, hipnotik, juga berkhasiat
antikonvulsi.
Maka digunakan sebagai obat status epileptikus dalam bentuk injeksi.
DS :
oral 2 –3 x sehari @ 2 –5 mg
Indikasi
: status epileptikus, konvulsi akibat keracunan
Kontra
indikasi : depresi pernafasan
Efek
samping : mengantuk, pandangan kabur, bingung, antaksia, amnesia,
ketergantungan,
kadang nyeri kepala.
6.
Primidon(Mysolin)
Strukturnya
mirip dengan fenobarbital dan di dalam hati akan dibiotrasformasi
menjado
fenobarbital, tetapi kurang sedatif dan sangat efektif terhadap serangan
grand
mal dan psikomotor.
DS :
Dimulai 4 x sehari @ 500 mg, hari ke 4 250 mg dan hari ke 11 25 mg
7.
Karbamazepin (Tegretol)
Senyawa
trisiklik ini mirip imipramin, Digunakan pada epilepsi grand mal dan
psikomotor
dengan efek;l.tifitasnya sama dengan fenitoin tetapi efek sampingnya
lebih
ringan.
DS :
Dimimun dengan dosis rendah dan dinaikan berangsur-angsur sampai 2-3 x
sehari
@ 200-400 mg,
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Hubungan Kuantitatif Struktur dan Aktivitas
Dari penelitian Hansch dan
kawan-kawan diketahui bahwa ada hubungan parabolic antara perubahan struktur
sedative-hipnotik, sifat lipofil (Log P) dan aktivitas penekan system saraf
pusat. Efek penekan system saraf pusat yang ideal dicapai bila senyawa
mempunyai nilai koefisien partisi oktanol-air optimal = 100 atau Log P = 2. Oleh
karena itu, struktur sedatifa dan hipnotika pada umumnya mengandung gugus-gugus
sebagai berikut :
1.
Gugus non ionik sangat polar dengan nilai (-) π
besar. Contoh gugus tersebut dapat dilihat pada tabel 1.
2. Gugus
hidrokarbon (alkil, aril) atau dihidrokarbon terhalogenasi (haloalkil) yang
bersifat nonpolar, dengan nilai π berkisar antara (+) 1-3.
Bila
gugus a dan b digabungkan didpatkan nilai jumlah π (Log P) ± 2, sehingga
dihasilkan efek penekan system saraf pusat yang mendekati ideal.
B. Hubungan Struktur dan Aktivitas
Sanberg (1951), membuat suatu
pospulat bahwa untuk memberikan efek penekan system saraf pusat, turunan asam
barbiturate harus bersifat asam lemah dan mempunyai nilai koefisien partisi
lemak/air dengan batas tertentu. Turunan 5,5- disubstitusi dan
1,5,5-trisubstitusi asam barbiturate serta 5,5-disubstitusi asam tiobarbiturat,
keasamannya relative lemah karena membentuk tautomeri triokso yang sukar
terionisasi sehingga mudah menembus sawar darah otak dan menimbulkan efek
penekan system saraf pusat. Turunan tak tersusbtitusi, 1-substitusi,
5-substitusi, 1,3-disubstitusi, 1,5-disubstitusi mempunyai sifat keasaman yang relatif
tinggi karena dapat membentuk tautomeri yang mudah terionisasi sehingga
kemampuan menembus membran lemak relative rendah dan tidak menimbulkan efek
penekan system saraf pusat.
Turunan 1,3,5,5-tetrasubstitusi
tidak bersifat asam, pada In vivo dimebolisis menjadi turunan
1,3,5-trisubstitusi yang aktif.
Golongan 5,5-disubstitusi dari
turunan barbiturate bersifat asam lemah, mempunyai nilai pKa ±7,0-8,5, contoh:
asam 5,5-dietil barbiturate (fenobarbital) pKa= 7,4, pada pH fisiologis lebih
dari 50% terdapat dalam bentuk tidak terionisasi sehingga mudah menembus
jaringan lemak dan menunjukkan aktivitas sebagai penekan system saraf pusat.
Sifat keasaman tersebut disebabkan karena terbentuknya tautomeri lakatam-laktim
dan keto-enol.
Golongan 5-substitusi barbiturate
bersifat lebih asam, contoh: asam 5-etilbarbiturat, pKa=4,4 pada ph fisiologis
mudah terionisasi (99,9%) sehingga kurang efektif dalam menembus sawar membrane
lipofil system saraf pusat dan tidak menimbulkan efek system saraf pusat.
Proses ionisasi dari 5-substitusi dan 5,5-disubstitusi barbiturate dapat
dilihat pada gambar 15.
Dari studi hubungan struktur dan
aktivitar turunan barbiturate didapatkan hal-hal sebagai berikut:
a.
Masa kerja obat terutama tergantung pada
substituent-substituen di posisi 5 yang mempengaruhi lipofilisitas. Aktivitas
hipnotik akan meningkat dengan meningkatnya lipofilisitas dan aktivitas optimum
dicapai bila jumlah atom C pada kedua substituent anatara 6-10. Bila jumlah atom
C ditingkatkan lagi aktivitasnya akan menurun menghasilkan senyawa konvulsan
atau menjadi tidak aktif.
b.
Pada seri yang sama, isomer dengan rantai cabang
mempunyai aktivitas lebih besar dan masa kerja yang lebih pendek. Senyawa
dengan percabangan yang lebih besar aktivitasnya lebih tinggi, contoh :
pentobarbital aktivitasnya lebih besar disbanding amobarbital.
c.
Pada seri yang sama, analog alil, alkenil dan
sikloalkinil yang tidak jenuh mempunyai aktivitas lebih besar dibanding analog
jenuh dengan jumlah atom C yang sama.
d.
Substtuen alisiklik dan aromatic memberikan
aktivitas yang lebih besar dibanding substituent alifatik dengan jumlah atom C
yang sama.
e.
Pemasukan atom halogen pada substituen 5-alkil
dapat meningkatkan aktivitas.
f.
Pemasukan gugus yang bersifat polar, seperti gugus
OH, NH2, RNH, CO, COOH dan SO3H, pada substituen 5-alkil akan menurunkan
aktivitas secara drastis.
g.
Metilasi pada N1 atau N3 akan meningkatkan
kelarutan dalam lemak dan menyebabkan awal kerja obat menjadi lebih cepat dan
masa kerja obat menjadi lebih singkat. Makin besar jumlah atom C makin
meningkat kelarutan dalam lemak, menurunkan sifat hidrofil sampai melewaati
batas yang diperlukan untuk timbulnya aktivitas, sehingga aktivitasnya akan
menurun secara drastis. Meskipun demikian, adanya gugus alkil yang besar pada
atom N akan meningkatkan sifat konvulsi dari turunan barbiturat. Alkilasi pada
kedua atom N menghilangkan sifat keasaman sehingga senyawa menjadi tidak aktif.
h.
Penggantian atom O dengan atom S pada atom C2
menyebabkan awal kerja obat menjadi lebih singkat. Penggantian atom O dengan
atom S pada atom C2 dan C4 (2,4-ditio) akan menurunkan aktivitas. Turunn
2,4,6-tritio, 2-imino, 4-imino, 2,4-diimino dan 2,4,6-triimino akan
menghilangkan aktivitas. Penggantian dengan atom S atau gugus imino lebih dari
satu oksigen karbonil akan menurunkan sifat hidrofil, melewati batas kelarutan
yang diperlukan, sehingga dapat menghilangkan aktivitas.
i.
Turunan yang strukturnya stereoisomer mempunyai
aktivitas yang kurang lebih sama.
C. Turunan Barbiturat
Turunan barbiturat bekerja
sebagai penekan pada aksis serebrospinal dan menekan aktivitas saraf, otot
rangka, otor jantung dan otot polos. Turunan Barbiturat dapat menghasilkan
derajat depresi yang berbeda yaitu sedasi, hipnotik atau anastesi, tergantung pada
struktur senyawa, dosis dan cara pemberian.
D. Mekanisme Kerja Barbiturat
Turunan barbiturat bekerja
dengan menekan transmisi sinaptik pada system pengaktifan retikula di otak
dengan cara mengubah permeabilitas membrane sel sehingga mengurangi rangsangan
sel postsinaptik dan menyebabkan deaktivasi korteks serebral.
BAB IV
PEMBAHASAN
Pertimbangan HKSA berdasarkan
atas segi fisikokimia pengangkutan dan penyebaran obat dari tempat pemakaiannya
ketempat yang dipengaruhinya dan antar aksi obat – reseptor. Dalam sekelompok
obat yang mempunyai struktur analog dan berkerja dengan cara yang sama, tiga
parameter berikut memegang peranan penting.
Tetapan kehidrofoban subsituen,
yang didasarkan pada kofeisien partisi, analog dengan tetapan Handmed ;
Πx = Log Px
– Log PH
Px adalah koefisien
partisi molekul yang mengandung subsituen X, dan PH adalah koefisien
partisi molekul yan tak tersubsitusi (yakni, hanya tersubtitusi oleh hydrogen).
Nilai π yang lebih positif menunjukkan kelipofilan yang lebih tinggi untuk
subsituen itu. Semua nilai itu bersifat aditif, maka dengan nilai P yang diukur
pada molekul baku dapat diramalkan kehidrofoban molekul baru.
BAB V
PENUTUP
- KESIMPULAN
1. Parameter
yang digunakan untuk HKSA obat anti epilepsy adalah parameter hidrofobik (π).
2. Efek
penekanan system saraf pusat yang ideal akan dicapai bila senyawa mempunyai
nilai koefisien partisi (P) dalam system oktanol-air lebih kurang = 1000/1 atau
nilai Log P = 2.
3. Turunan
barbiturate termasuk senyawa lipofilik.
4. Obat perangsang SSP dibedakan menurut derajat efek
rangsangan SSP yang ditimbulkannya, yaitu : Konvulsa,
Analeptik, Psychic energizer
5. Obat yang
lebih hidrofobik dari yang diperlukan dapat menghasilkan yang tidak diinginkan
SSP depresan.
6. Pendekatan sistematis melalui QSAR bisa membantu
dalam desain agen SSP.
- SARAN
1.
Perbanyak
penelitian mengenai Qsar
2.
Perbanyak
literatur
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2004, Kumpulan
Kuliah Farmakologi Edisi 2 Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Azra, F., 2002, Analisis Hubungan Kuantitatif Struktur
Elektronik dan Aktivitas Antiplasmodium dari Seri Senyawa Turunan
1,10-Fenantrolin, Tesis S2 FMIPA UGM,
Yogyakarta
Gupta, S.P., 1989, QSAR Studies on Drugs Acting at the
Central Nervous System, Chem. Rev., 89
(8), pp 1765-1800
Jensen, Frank, 1999, Introduction
to Computationa Chemistry, Canada: John Wiley & Sons